Sebuah
renungan, tatkala mata ini terbuka dari tidur yang panjang, dengan begitu
banyak mimpi dan teori yang tersimpan rapi. Namun apa daya semua itu masih
harus dipendam sampai waktunya tiba, waktu tatkala kebebasan menjadi hal yang
sangat diimpikan, tidak seperti kebebasan yang terbungkus dalam kemunafikan,
tidak dengan kebebasan yang sebebas-bebasnya pula, akan tetapi kebebasan yang
bersumber dari sesuatu yang Tunggal dan Esa, dimana peradaban dinaungi oleh
cinta kasih yang tulus antara manusia yang satu dan lainnya, antara maklhuk
dengan sang pencipta_Nya. Semua itu dibungkus dengan iman dan taqwa yang
sejalan dengan perbuatan.
Hal
yang begitu sangat diimpikan oleh semua orang, namun saya mau mengutip frase
singkat yang pertama kali diucapkan oleh Plautus pada 195 SM, homo homini lupus yang berarti bahwa
manusia adalah serigala bagi manusia yang lain, adalah sebuah penegasan bahwa
manusia itu mengganggap penaklukan terhadap manusia lainnya adalah sebuah
kodrat. Kehidupan manusia layaknya kehidupan serigala di alam liar. Kita saling
menerkam, merampas, menyakiti, dan merebut milik manusia lainnya. Dalam
sejarahnya, rentang waktu kita telah dipenuhi oleh darah dan air mata. Dan
alirannya bahkan belum akan kering hingga saat ini.
Perebutan
kekuasaan masih akan terus berlangsung, sanak saudara akan saling membunuh dan
menjatuhkan satu sama lain. Ini bukan cerita belaka namun semenjak Adam dan
Hawa diciptkan pun era itu telah dimulai dengan pembunuhan pertama di dunia
yang dilakukan oleh anak Adam terhadap saudaranya. Penghianatan brutus yang telah diampuni oleh Julius
Cesar Kaisar Romawi yang tersohor yang membunuh Julius Cesar karena perilaku
pemaafnya, peristiwa holoceus oleh Hitler karena menganggap kaum bani Israel
umat yahudi hanya akan membuat kekacauan di dunia, kudeta terhadap Presiden
Mesir Mubarok oleh rakyat, dan masih banyak contoh lain lagi yang menggambarkan
secara utuh betapa nafsu kekuasaan mampu menutup mata dan jiwa seseorang
terhadap manusia lainnya.
Homo
homini Lupus, Kata yang begitu singkat namun memiliki arti yang sangat
mendalam, yang sampai akhir zaman pun manusia akan seperti itu. Dalam era
millennium saat ini, di saat semua hal bergantung atas teknologi dan uang kata
Plautus 195 SM mungkin mampu untuk menggambarkan situasi pemerintahan suatu
Negara berdasar atas kata Politik, apa itu politik? Politik adalah seni dan
ilmu untuk meraih kekuasaan secara konstitusional maupun nonkonstitusional. Teori klasik aristoteles, politik adalah
usaha yang ditempuh warga negara untuk mewujudkan kebaikan bersama . kata yang
sangat sederhana namun mampu mewakili homo homini lupus, dimana seseorang akan
melakukan segala cara untuk memenuhi nafsu kekuasaannya, system politik
Indonesia yaitu demokrasi “dari rakyat, oleh rakyat, untuk rakyat’. Namun faktanya
semua itu hanya kata semu yang tidak memiliki makna sama sekali didalam dunia
masyarakat, wakil rakyat yang seharusnya mewakili aspirasi rakyat justru hanya
berkutat untuk kepentingan kelompoknya, Kepala Daerah yang seharusnya menjadi
pengayom di daerahnya justru berkhianat dengan melakukan tindakan tidak terpuji
seperti korupsi, suap, kolusi dan nepotisme untuk mempertahankan kedudukan dan
generasi penerusnya. Pemimpin Negara yang seharusnya menjadi lambang pelindung
dan pengikat semua unsure dalam Negara sekaligus Ulil Amri justru masih sibuk
dengan urusan kelompok dan orang-orang yang ada di sekitarnya. Apakah semua hal
diatas masih diinginkan oleh rakyat? Hmm, Ingat, system demokrasi dalam dunia
peprpolitikan itu hanya sebuah cara untuk mewujudkan tujuan hidup manusia yakni
kemaslahatan. Kalau demokrasi itu tidak mampu untuk mewujudkan hal tersebut
kenapa mesti kita harus ikuti, masih banyak Negara di dunia ini yang tidak
menerapkan system itu tapi togh mereka tetap makmur, seperti Inggris dan Negara
persemakmurannya, dsb. Jangan sampai system ini hanya menjadi alat untuk
segelintir kelompok untuk menguasai manusia laiinya. Ini adalah sebuah contoh
konkrit yang harus kita piker secara mendalam.
Politik
semu hanya kan melahirkan bandit-bandit intelektual yang akan merongrong dan
menghancurkan kedamaian dan kesejahteraan sejati. Politik hanya kan memecah
belah, mencerai-beraikan dan mengkotak-kotakan kaum kerabat, keluarga,
masyarakat dan rakyat. Semua orang hanya akan memusatkan pikirannya untuk
kepuasan raganya saja. Tanpa mau hidup secara social dalam bingkai kehidupan
sejati sesuai amanah sang maha tunggal dan esa, manusia adalah khalifah di muka
bumi.
Tidak ada
tanda bahwa homo homini lupus akan tergerus oleh peradaban budaya. Tidak ada
satupun tanda bahwa manusia tidak lagi menjadi serigala bagi manusia yang
lainnya. Sampai sekarang, kita masih saling membunuh, saling menghabisi, saling
menghancurkan dengan alasan jelas ataupun tidak jelas. Nafsu manusia untuk
menguasai manusia lain adalah tak terbatas.
Manusia tak
mempunyai taring, tak mempunyai tanduk, tak mempunyai cakar yang membuat
musuh-musuhnya bergidik. Namun kita mempunyai kepala yang penuh dengan
kelicikan dan kebusukan. Sebuah senjata yang paling berbahaya dibandingkan dari
hasil seleksi alam yang lain. Hampir tak ada batasan pemikiran yang dapat
menghalanginya. Menggumbar segala kekuatan, menghantam seluruh pembatas.
Sampai kapan
manusia akan selalu menjadi serigala bagi manusia yang lain? Apakah takdir
menggenaskan itu akan terjadi selama-lamanya hingga ruang dan waktu berhenti
berkembang? Atau apakah manusia dapat berpikiran untuk setidaknya sedikit
menekan keinginannya untuk memberangus saudara-saudaranya. Membuat kehidupan
kita sedikit lebih beradap dibandingkan waktu-waktu yang telah ada.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar