Kamis, 26 Maret 2015

Menjadi Manusia


Sebuah renungan, tatkala mata ini terbuka dari tidur yang panjang, dengan begitu banyak mimpi dan teori yang tersimpan rapi. Namun apa daya semua itu masih harus dipendam sampai waktunya tiba, waktu tatkala kebebasan menjadi hal yang sangat diimpikan, tidak seperti kebebasan yang terbungkus dalam kemunafikan, tidak dengan kebebasan yang sebebas-bebasnya pula, akan tetapi kebebasan yang bersumber dari sesuatu yang Tunggal dan Esa, dimana peradaban dinaungi oleh cinta kasih yang tulus antara manusia yang satu dan lainnya, antara maklhuk dengan sang pencipta_Nya. Semua itu dibungkus dengan iman dan taqwa yang sejalan dengan perbuatan.
Hal yang begitu sangat diimpikan oleh semua orang, namun saya mau mengutip frase singkat yang pertama kali diucapkan oleh Plautus pada 195 SM, homo homini lupus yang berarti bahwa manusia adalah serigala bagi manusia yang lain, adalah sebuah penegasan bahwa manusia itu mengganggap penaklukan terhadap manusia lainnya adalah sebuah kodrat. Kehidupan manusia layaknya kehidupan serigala di alam liar. Kita saling menerkam, merampas, menyakiti, dan merebut milik manusia lainnya. Dalam sejarahnya, rentang waktu kita telah dipenuhi oleh darah dan air mata. Dan alirannya bahkan belum akan kering hingga saat ini.
Perebutan kekuasaan masih akan terus berlangsung, sanak saudara akan saling membunuh dan menjatuhkan satu sama lain. Ini bukan cerita belaka namun semenjak Adam dan Hawa diciptkan pun era itu telah dimulai dengan pembunuhan pertama di dunia yang dilakukan oleh anak Adam terhadap saudaranya. Penghianatan brutus yang telah diampuni oleh Julius Cesar Kaisar Romawi yang tersohor yang membunuh Julius Cesar karena perilaku pemaafnya, peristiwa holoceus oleh Hitler karena menganggap kaum bani Israel umat yahudi hanya akan membuat kekacauan di dunia, kudeta terhadap Presiden Mesir Mubarok oleh rakyat, dan masih banyak contoh lain lagi yang menggambarkan secara utuh betapa nafsu kekuasaan mampu menutup mata dan jiwa seseorang terhadap manusia lainnya.
Homo homini Lupus, Kata yang begitu singkat namun memiliki arti yang sangat mendalam, yang sampai akhir zaman pun manusia akan seperti itu. Dalam era millennium saat ini, di saat semua hal bergantung atas teknologi dan uang kata Plautus 195 SM mungkin mampu untuk menggambarkan situasi pemerintahan suatu Negara berdasar atas kata Politik, apa itu politik? Politik adalah seni dan ilmu untuk meraih kekuasaan secara konstitusional maupun nonkonstitusional. Teori klasik aristoteles, politik adalah usaha yang ditempuh warga negara untuk mewujudkan kebaikan bersama . kata yang sangat sederhana namun mampu mewakili homo homini lupus, dimana seseorang akan melakukan segala cara untuk memenuhi nafsu kekuasaannya, system politik Indonesia yaitu demokrasi “dari rakyat, oleh rakyat, untuk rakyat’. Namun faktanya semua itu hanya kata semu yang tidak memiliki makna sama sekali didalam dunia masyarakat, wakil rakyat yang seharusnya mewakili aspirasi rakyat justru hanya berkutat untuk kepentingan kelompoknya, Kepala Daerah yang seharusnya menjadi pengayom di daerahnya justru berkhianat dengan melakukan tindakan tidak terpuji seperti korupsi, suap, kolusi dan nepotisme untuk mempertahankan kedudukan dan generasi penerusnya. Pemimpin Negara yang seharusnya menjadi lambang pelindung dan pengikat semua unsure dalam Negara sekaligus Ulil Amri justru masih sibuk dengan urusan kelompok dan orang-orang yang ada di sekitarnya. Apakah semua hal diatas masih diinginkan oleh rakyat? Hmm, Ingat, system demokrasi dalam dunia peprpolitikan itu hanya sebuah cara untuk mewujudkan tujuan hidup manusia yakni kemaslahatan. Kalau demokrasi itu tidak mampu untuk mewujudkan hal tersebut kenapa mesti kita harus ikuti, masih banyak Negara di dunia ini yang tidak menerapkan system itu tapi togh mereka tetap makmur, seperti Inggris dan Negara persemakmurannya, dsb. Jangan sampai system ini hanya menjadi alat untuk segelintir kelompok untuk menguasai manusia laiinya. Ini adalah sebuah contoh konkrit yang harus kita piker secara mendalam.
Politik semu hanya kan melahirkan bandit-bandit intelektual yang akan merongrong dan menghancurkan kedamaian dan kesejahteraan sejati. Politik hanya kan memecah belah, mencerai-beraikan dan mengkotak-kotakan kaum kerabat, keluarga, masyarakat dan rakyat. Semua orang hanya akan memusatkan pikirannya untuk kepuasan raganya saja. Tanpa mau hidup secara social dalam bingkai kehidupan sejati sesuai amanah sang maha tunggal dan esa, manusia adalah khalifah di muka bumi.  
Tidak ada tanda bahwa homo homini lupus akan tergerus oleh peradaban budaya. Tidak ada satupun tanda bahwa manusia tidak lagi menjadi serigala bagi manusia yang lainnya. Sampai sekarang, kita masih saling membunuh, saling menghabisi, saling menghancurkan dengan alasan jelas ataupun tidak jelas. Nafsu manusia untuk menguasai manusia lain adalah tak terbatas.
Manusia tak mempunyai taring, tak mempunyai tanduk, tak mempunyai cakar yang membuat musuh-musuhnya bergidik. Namun kita mempunyai kepala yang penuh dengan kelicikan dan kebusukan. Sebuah senjata yang paling berbahaya dibandingkan dari hasil seleksi alam yang lain. Hampir tak ada batasan pemikiran yang dapat menghalanginya. Menggumbar segala kekuatan, menghantam seluruh pembatas.

Sampai kapan manusia akan selalu menjadi serigala bagi manusia yang lain? Apakah takdir menggenaskan itu akan terjadi selama-lamanya hingga ruang dan waktu berhenti berkembang? Atau apakah manusia dapat berpikiran untuk setidaknya sedikit menekan keinginannya untuk memberangus saudara-saudaranya. Membuat kehidupan kita sedikit lebih beradap dibandingkan waktu-waktu yang telah ada.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar